Tragis Sopir Angkot Meninggal Dunia Ditembak KKB di Papua Tengah
Kabar duka kembali menyelimuti wilayah Papua Tengah setelah seorang sopir angkot dilaporkan meninggal dunia akibat ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Insiden tragis ini menambah daftar panjang korban kekerasan di Papua, menyoroti tantangan keamanan yang masih terjadi di beberapa daerah. Peristiwa ini sangat disesalkan dan menyebabkan satu warga sipil meninggal dunia saat mencari nafkah.
Peristiwa nahas yang menyebabkan sopir angkot tersebut meninggal dunia terjadi pada hari Jumat, 23 Mei 2025, sekitar pukul 11.45 WIT. Korban diidentifikasi sebagai Bapak Lukas (45), seorang sopir angkutan umum yang biasa beroperasi di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol. Ignatius Benny Ady Prabowo, insiden penembakan terjadi di sekitar Jalan Poros Sugapa-Homeyo, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya.
Kronologi kejadian bermula ketika Bapak Lukas sedang mengemudikan angkotnya yang berisi beberapa penumpang sipil. Tiba-tiba, kendaraan mereka dihadang oleh sekelompok orang bersenjata yang diduga kuat adalah anggota KKB. Tanpa peringatan, pelaku langsung melepaskan tembakan ke arah kendaraan, mengenai Bapak Lukas yang berada di kursi kemudi. Akibat luka tembak yang serius, korban langsung meninggal dunia di tempat kejadian. Penumpang lain yang berada di dalam angkot selamat, meskipun mengalami trauma mendalam.
Setelah melancarkan aksinya, KKB segera melarikan diri ke dalam hutan. Aparat keamanan gabungan dari TNI dan Polri yang menerima laporan kejadian langsung bergerak cepat menuju lokasi. Tim evakuasi berhasil mengevakuasi jenazah Bapak Lukas ke Puskesmas Homeyo untuk kemudian direncanakan dibawa ke Timika. Kombes Pol. Ignatius Benny Ady Prabowo mengecam keras tindakan KKB yang kembali menargetkan warga sipil tidak bersalah. “Kami akan terus melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku dan memastikan keamanan bagi masyarakat di Papua,” tegasnya pada Sabtu pagi, 24 Mei 2025.
Insiden ini sekali lagi menggarisbawahi urgensi penyelesaian konflik di Papua yang komprehensif, bukan hanya melalui pendekatan keamanan, tetapi juga pembangunan dan dialog. Kehilangan nyawa seorang warga sipil yang hanya mencari nafkah adalah tragedi yang harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak untuk mencapai perdamaian berkelanjutan di Bumi Cenderawasih.
