Pulau Biak: Keindahan Bawah Laut dan Sejarah Perang Dunia II
Pulau Biak, sebuah permata di Papua, menawarkan perpaduan unik antara keindahan bawah laut yang memukau dan jejak sejarah Perang Dunia II yang masih lestari. Dikenal dengan perairan jernihnya, pulau ini menjadi surga bagi para penyelam dan penikmat alam bawah laut. Namun, di balik pesona baharinya, Biak menyimpan kisah kelam dari pertempuran sengit yang pernah terjadi di masa lalu. Kombinasi daya tarik ini menjadikan Pulau Biak destinasi yang kaya akan petualangan dan pengetahuan. Misalnya, pada tanggal 4 Mei 2024, sebuah ekspedisi tim arkeolog kelautan dari Universitas Papua berhasil menemukan bangkai pesawat tempur era PD II di perairan Biak Utara, menambah daftar peninggalan sejarah di sana.
Keindahan bawah laut Biak memang tak diragukan lagi. Terumbu karang yang berwarna-warni, beragam jenis ikan tropis, hingga biota laut langka dapat ditemukan dengan mudah di berbagai titik penyelaman dan snorkeling. Salah satu lokasi favorit adalah Teluk Wardo yang terkenal dengan gua bawah lautnya yang menawan, serta titik-titik di sekitar Pulau Rurbas dan Pulau Padaido yang memiliki keanekaragaman hayati laut luar biasa. Bagi para penyelam, menemukan bangkai kapal atau pesawat yang karam di dasar laut adalah pengalaman yang sering dicari, menjadi saksi bisu sejarah yang tenggelam bersama keindahan bawah laut Biak. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Bapak Albertus Kafiar, pernah menyatakan dalam wawancara pada hari Kamis, 17 April 2025, bahwa “Biak punya potensi besar di sektor wisata bahari, dan kami terus berupaya menjaga kelestarian ekosistem bawah lautnya.”
Di daratan, sejarah Perang Dunia II masih sangat terasa. Biak adalah salah satu medan pertempuran penting antara pasukan Jepang dan Sekutu pada tahun 1944. Pengunjung dapat menjelajahi gua-gua peninggalan Jepang, seperti Goa Jepang Binsari, yang dulunya digunakan sebagai markas dan tempat persembunyian tentara. Lokasi-lokasi ini memberikan gambaran nyata tentang kerasnya pertempuran yang terjadi. Bahkan, masyarakat lokal sering menemukan artefak perang seperti helm, peluru, atau peralatan militer lainnya. Seorang veteran perang asal Biak, Bapak Elias Mambrasar, yang pada tahun 2025 berusia 98 tahun, masih sering menceritakan pengalamannya kepada para pengunjung setiap hari Selasa pagi pukul 09.00 WIB di Museum Biak, yang menyimpan koleksi foto dan peninggalan perang. Metode efektif untuk menggali sejarah adalah dengan menyewa pemandu lokal yang memahami setiap detail peristiwa. Dengan demikian, Pulau Biak tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati keindahan bawah laut yang memukau, tetapi juga kesempatan untuk merenungkan jejak sejarah global yang tertoreh di tanah dan perairannya.
