Menggali Tradisi: Upacara Bakar Batu (Barapen) sebagai Simbol Perdamaian dan Syukur

Admin_faktapapua/ November 17, 2025/ Budaya, Tradisi

Di dataran tinggi Pegunungan Tengah Papua, jauh dari hiruk pikuk modernitas, Suku Dani, Lani, dan Yali secara turun-temurun menggali tradisi yang sangat unik dan sarat makna: Upacara Bakar Batu, atau dikenal dengan nama lokal Barapen. Ritual ini bukan sekadar cara memasak makanan; ia adalah jantung dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat pegunungan. Upacara Bakar Batu ini secara universal berfungsi sebagai simbol perdamaian dan ungkapan rasa syukur atas berkat yang diterima, seperti hasil panen yang melimpah, kelahiran anak, pernikahan, atau sebagai ritual penyambutan tamu kehormatan.


Filosofi Batu Panas dan Komunitas

Inti dari Barapen terletak pada penggunaan batu-batu yang dipanaskan hingga membara. Berbeda dengan metode memasak modern, proses ini tidak menggunakan api secara langsung. Batu-batu vulkanik yang telah dipanaskan di dalam lubang kemudian diletakkan bersama daging babi (atau ayam/kambing untuk yang beragama Islam), ubi jalar, singkong, dan sayuran, lalu ditutup dengan daun-daunan dan tanah. Panas dari batu inilah yang memasak makanan hingga matang sempurna.

Menggali tradisi ini menunjukkan konsep komunal yang kuat. Makanan yang dimasak dalam Barapen harus dibagikan kepada seluruh anggota suku yang hadir. Tidak ada individu yang makan sendirian. Ini adalah simbol perdamaian sejati, di mana konflik dikesampingkan, dan semua orang berkumpul dalam lingkaran yang sama. Kepala Suku Lani, Bapak Wesman Kogoya, dalam sambutannya pada Barapen di Lembah Baliem pada Tanggal 27 Agustus 2024, menekankan bahwa upacara ini adalah cara leluhur untuk mengingatkan pentingnya kebersamaan dan meredakan ketegangan antarsuku.

Prosesi Ritual yang Khidmat

Pelaksanaan Upacara Bakar Batu adalah rangkaian prosesi yang melibatkan peran spesifik dari setiap anggota komunitas:

  1. Persiapan: Para pria bertugas memanaskan batu dan menyiapkan lubang. Sementara itu, wanita bertugas menyiapkan bahan makanan, terutama ubi jalar.
  2. Pemanasan: Batu-batu dipanaskan di atas api unggun besar hingga benar-benar membara (biasanya memakan waktu 1–2 jam).
  3. Susunan: Batu panas dipindahkan ke dalam lubang, diikuti oleh daging yang dibungkus daun, ubi, dan sayuran. Lapisan ini ditutup berulang kali dengan daun dan batu panas, lalu ditutup lagi dengan tanah, menciptakan oven alami.

Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai masakan tetapi juga sebagai peristiwa sosial. Berdasarkan laporan antropologi dari Universitas Cenderawasih yang dipublikasikan pada Hari Rabu, 5 November 2025, durasi prosesi Barapen dari awal hingga makanan siap santap adalah sekitar 3 hingga 4 jam, yang diisi dengan tarian, nyanyian, dan musyawarah.

Pentingnya Upacara Bakar Batu sebagai ungkapan rasa syukur tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan spiritual mereka terhadap alam dan roh leluhur yang memberikan kelimpahan hasil bumi. Ini adalah salah satu tradisi Papua yang paling otentik dan merupakan cerminan nyata dari nilai-nilai kebersamaan dan saling berbagi.

Share this Post